SEJARAH PERTUMBUHAN, PARA IMAM, AJARAN DAN PENGARUHNYA DI INDONESIA

SEJARAH PERTUMBUHAN, PARA IMAM, AJARAN DAN PENGARUHNYA DI INDONESIA

SEJARAH PERTUMBUHAN

Kelainan cara pandang dan orientasi adalah sesuatu yang membedakan manusia dengan makhluk yang lain. Kedua-duanya adalah sebab utama berkembangnya berbagai macam kelompok. Tragedi Muawiyah dan Ali bin Abi Thalib adalah bentuk awal dari perbedaan pendapat yang ada dalam dinamika kehidupan manusia.
Bahkan dalam satu kelompok yang cenderung mempunyai ideologi yang sama, tak lepas dari perbedaan pendapat dari individu-individu yang ada di dalamnya. Begitu juga dengan Islam, Meski sama-sama berpegang teguh pada Alquran dan Hadits, dengan mudah kita temui perbedaan yang melingkupi tubuh umat muslim. Ada golongan Khawarij, Ahlus Sunnah wal-Jama’ah, Syi’ah, dan lain sebagainya. Perbedaan tersebut dapat terlihat ketika golongan Syi’ah mengimani Aqidah Bada’ (mampu melihat Tuhan) seperti dalam firman Allah Swt. Q.S. Al-Qiyamah : 22-23, “Dan wajah-wajah (orang-orang Mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Rabb-nyalah mereka melihat.” juga pada hadits disebutkan “kami pernah duduk bersama nabi Muhammad kemudia beliau melihat bulan purnama pada malam empat belas, maka beliau bersabda “kalian akan melihat Tuhan kalian dengan mata kepala, sebagaimana kalian melihat bulan ini dan tidak bersusah-susah dalam melihatnya. H.R. Bukhari dan Muslim dari Jarir bin Abdullah Al Bajali[1]

Berawal dari wafatnya Nabi Muhammad saw yang dalam tiga hari belum juga dikuburkan, disebabkan oleh para sahabat yang masih bimbang tentang pengganti Nabi Muhammad saw, maka ditetapkanlah khalifah (pengganti) yaitu orang yang paling dekat dan dipercaya oleh Nabi Muhammad saw yaitu Abu Bakar As-Siddiq. Walaupun terlihat janggal ketika kepentingan politik dibawa dan diutamakan ketimbang persoalan agama. Setelah itu, perbedaan visi politik khalifah kedua (Umar bin Khattab) dengan khalifah ketiga (Usman bin Affan) membentuk persoalan baru dikalangan kaum muslimin ketika itu. Hingga puncaknya terjadi pembunuhan khalifah Usman bin Affan yang pembunuhnya tidak dihukum mati, namun diangkat menjadi gubernur Mesir dan memberikan kesan tidak baik di hati para kaum muslimin. Kemudian, meyinggung cerita Muawiyah dan Ali yang sangat fenomenal dikala itu, perihal perebutan kekuasaan dalam tubuh Islam masih terlihat kontras. Lantas terjadilah perang shiffin selama sepuluh hari dan hasilnya Muawiyah terlihat kalah, dengan kelicikan politik kekuasaannya, Muawiyah menginginkan permintaan damai kepada Ali melalui proposal perundingan damai (Tahkim). Kesepakatan telah dicapai hingga momen pengumuman hasil perundingan dilaksanakan, namun disaat kubu Muawiyah menyampaikan hasilnya, ternyata berbeda sekali dengan hasil kesepakatan yang telah ditentukan, bahwa Ali menyatakan telah menyerahkan kekuasaan terhadap Muawiyah. Sehingga dari rentetan kejadian tersebut melahirkan beberapa aliran kalam yang hingga hari ini masih tumbuh subur di Indonesia yang diantaranya adalah Syi’ah.

Pengenalan Syi’ah

Syi’ah merupakan sekte dengan jumlah penganut terbesar kedua dalam agama Islam, setelah Sunni. Sekitar sembilan puluh persen umat Muslim sedunia merupakan penganut Sunni, dan sepuluh persen penganut Syi’ah.[2] “Syi’ah” adalah bentuk pendek dari kalimat bersejarah “Syi`ah `Ali” yang berarti “pengikut Ali”, yang berkenaan dengan turunnya Q.S. Al-Bayyinah ayat yang berbunyi “khair al-bariyyah”, saat turunnya ayat itu Nabi Muhammad bersabda, “Wahai Ali, kamu dan pengikutmu adalah orang-orang yang beruntung – (ya ‘Ali anta wa syi’atuka hum al-faizun”.[3] Secara khusus, Muslim Syi’ah berpendapat bahwa Ali bin Abi Thalib, yaitu sepupu dan menantu Muhammad dan kepala keluarga Ahlul Bait, adalah penerus kekhalifahan setelah Nabi Muhammad, yang berbeda dengan khalifah lainnya yang diakui oleh Muslim Sunni. Menurut keyakinan Syi’ah, Ali berkedudukan sebagai khalifah dan Imam melalui wasiat Nabi Muhammad saw. [4] Perbedaan antara pengikut Ahlul Bait dan Ahlus Sunnah menjadikan perbedaan pandangan yang tajam antara Syi’ah dan Sunni dalam penafsiran Al-Qur’an, Hadits, mengenai Sahabat, dan hal-hal lainnya. Sebagai contoh perawi Hadits dari Muslim Syi’ah berpusat pada perawi dari Ahlul Bait, sementara yang lainnya seperti Abu Hurairah tidak dipergunakan. Tanpa memperhatikan perbedaan tentang khalifah, Syi’ah mengakui otoritas Imam Syi’ah (juga dikenal dengan Khalifah Ilahi) sebagai pemegang otoritas agama, walaupun sekte-sekte dalam Syi’ah berbeda dalam siapa pengganti para Imam dan Imam saat ini. Dalam Syi’ah, ada Ushulud-din (perkara pokok dalam agama) dan Furu’ud-din (perkara cabang dalam agama). Syi’ah memiliki lima perkara pokok, yaitu:

a. Tauhid, bahwa Tuhan adalah Maha Esa.
b. Al-‘Adl, bahwa Tuhan adalah Maha Adil.
c. An-Nubuwwah, bahwa kepercayaan Syi’ah meyakini keberadaan para nabi sebagai pembawa berita dari Tuhan kepada umat manusia.
d. Al-Imamah, bahwa Syi’ah meyakini adanya Imam yang senantiasa memimpin umat sebagai penerus risalah kenabian.
e. Al-Ma’ad, bahwa akan terjadinya Hari Kebangkitan.

Dalam perkara ke-nabi-an, Syi’ah berkeyakinan bahwa:

a. Jumlah nabi dan rasul Tuhan adalah 124.000.
b. Nabi dan rasul terakhir ialah Nabi Muhammad.
c. Nabi Muhammad adalah suci dari segala aib dan tanpa cacat sedikitpun. Dia adalah nabi yang paling utama dari seluruh nabi yang pernah diutus Tuhan.
d. Ahlul-Bait Nabi Muhammad, yaitu Imam Ali, Sayyidah Fatimah, Imam Hasan, Imam Husain dan 9 Imam dari keturunan Imam Husain adalah manusia-manusia suci sebagaimana Nabi Muhammad.
e. Al-Qur’an adalah mukjizat kekal Nabi Muhammad.

C. Aliran-aliran Syi’ah

Golongan atau aliran Syi’ah dalam sejarahnya terpecah-pecah dalam masalah Imamiyyah. Sekte terbesar adalah Dua Belas Imam, diikuti oleh Zaidiyyah dan Ismailiyyah. Ketiga kelompok terbesar itu mengikuti garis yang berbeda Imamiyyah, yakni: Dua belas Imam. Disebut juga Imamiyyah atau Itsna ‘Asyariyyah (Dua Belas Imam) karena mereka percaya bahwa yang berhak memimpin kaum Muslim hanyalah para Imam dari Ahlul-Bait, dan mereka meyakini adanya dua belas Imam. Aliran ini adalah yang terbesar di dalam Syi’ah. Urutan Imamnya adalah :
1. Ali bin Abi Thalib (600–661), juga dikenal dengan Amirul Mukminin
2. Hasan bin Ali (625–669), juga dikenal dengan Hasan al-Mujtaba
3. Husain bin Ali (626–680), juga dikenal dengan Husain asy-Syahid
4. Ali bin Husain (658–713), juga dikenal dengan Ali Zainal Abidin
5. Muhammad bin Ali (676–743), juga dikenal dengan Muhammad al-Baqir
6. Jafar bin Muhammad (703–765), juga dikenal dengan Ja’far ash-Shadiq
7. Musa bin Ja’far (745–799), juga dikenal dengan Musa al-Kadzim
8. Ali bin Musa (765–818), juga dikenal dengan Ali ar-Ridha
9. Muhammad bin Ali (810–835), juga dikenal dengan Muhammad al-Jawad atau Muhammad at Taqi
10. Ali bin Muhammad (827–868), juga dikenal dengan Ali al-Hadi
11. Hasan bin Ali (846–874), juga dikenal dengan Hasan al-Askari
12. Muhammad bin Hasan (868—), juga dikenal dengan Muhammad al-Mahdi
13. Disebut juga Syi’ah Lima Imam karena merupakan pengikut Zaid bin ‘Ali bin Husain bin ‘Ali bin Abi Thalib. Mereka dianggap moderat karena tidak menganggap ketiga khalifah sebelum ‘Ali tidak sah. Urutan Imamnya adalah:
14. Ali bin Abi Thalib (600–661), juga dikenal dengan Amirul Mukminin
15. Hasan bin Ali (625–669), juga dikenal dengan Hasan al-Mujtaba
16. Husain bin Ali (626–680), juga dikenal dengan Husain asy-Syahid
17. Ali bin Husain (658–713), juga dikenal dengan Ali Zainal Abidin
18. Zaid bin Ali (658–740), juga dikenal dengan Zaid bin Ali asy-Syahid, adalah anak Ali bin Husain dan saudara tiri Muhammad al-Baqir.
19. Disebut juga Syi’ah Tujuh Imam karena mereka meyakini tujuh Imam, dan mereka percaya bahwa Imam ketujuh ialah Isma’il. Urutan Imamnya adalah:
20. Ali bin Abi Thalib (600–661), juga dikenal dengan Amirul Mukminin
21. Hasan bin Ali (625–669), juga dikenal dengan Hasan al-Mujtaba
22. Husain bin Ali (626–680), juga dikenal dengan Husain asy-Syahid
23. Ali bin Husain (658–713), juga dikenal dengan Ali Zainal Abidin
24. Muhammad bin Ali (676–743), juga dikenal dengan Muhammad al-Baqir
25. Ja’far bin Muhammad bin Ali (703–765), juga dikenal dengan Ja’far ash-Shadiq
26. Ismail bin Ja’far (721 – 755), adalah anak pertama Ja’far ash-Shadiq dan kakak Musa al-Kadzim.
Pada kesempatan kali ini, penulis akan memaparkan pengikut terbesar Syi’ah. Meski berangkat dari ideologi yang sama, yakni mendukung dan mengikuti Ali bin Abi Thalib, sekaligus mendahulukan dan lebih mengutamakan dia dari pada para sahabat yang lain. Syi’ah dalam perkembangannya terbagi menjadi beberapa kelompok. Diantaranya Syi’ah Itsna ‘Asyariyyah atau Imamiyah, Zaidiyah dan Syi’ah Ismailiyah. Perpecahan kelompok dalam tubuh Syi’ah tak lepas dari perbedaan pendapat yang melingkupi para penganutnya. Disini, penulis akan menjelaskan tentang golongan Syi’ah Imamiyah, Zaidiyah dan Ismailiyah beserta sejarah perkembangannya, sekaligus beberapa ajaran-ajarannya.

Sumber : https://dogetek.co/