Kenapa Mendikbud Nadiem Frustrasi Luar Biasa?

Kenapa Mendikbud Nadiem Frustrasi Luar Biasa?

Kenapa Mendikbud Nadiem Frustrasi Luar Biasa

Saya frustrasi luar biasa, negara dengan keindahan yang luar biasa seperti Indonesia,

tidak dikenal di luar negeri,” kata Nadiem ke beberapa media sepanjang 9-11 Januari 2020.

Sepertinya baru kali ini Nadiem bilang frustrasi tentang Indonesia. Karena biasanya, pria berkacamata ini selalu dikaitkan dengan sifat optimistis, momentum, eksekusi, dan lain-lain.

Tak hanya Nadiem, rasanya kita semua juga frustrasi. Awal 2019, situs Rough Guides menyebut Indonesia sebagai negara terindah ke-enam di dunia. Namun anehnya, Indonesia tidak masuk dalam daftar ‘Most Popular Countries by Tourists’ sejak tahun 1991-2019 (Data World Tourism Organization UNWTO, diolah akun YouTube: Data is Beautiful).

tidak pernah masuk dalam 20 negara yang paling banyak dikunjungi warga dunia: World’s Top 20 Most Visited Countries by International Tourists (sumber akun YouTube: Animated Stats). Di ASEAN saja, kunjungan turis asing ke Indonesia kalah dengan Thailand, Malaysia, Singapura bahkan Vietnam. Jadi pantas saja Nadiem frustrasi luar biasa.

Bagaimana dengan manusia Indonesia-nya sendiri? Kita juga belum menemukan orang Indonesia dalam Time 100: The Most Influential People of 2019, dan World’s 100 Most Influential People in Digital Government yang dikeluarkan apolitical.co.

Rupanya, influencer tidak semata diukur dari jumlah follower dan subscriber

di media sosial. Ada hal yang lebih substantif ketimbang sekadar follower dan pamer saldo rekening di media sosial.

Demikian juga dalam 100 Atlet Paling Terkenal di Dunia versi ESPN,

tak ada orang kita di dalamnya. Indonesia juga tidak masuk dalam 30 negara yang punya kelebihan dalam soft power atau Soft Power Index 2019. Berbagai pemeringkatan itu pantas dijadikan bahan evaluasi, terlepas dari berbagai kekurangannya.

Perlukah revolusi dalam cara kita mempromosikan Indonesia? Di mana kurangnya konten-konten yang diproduksi pemerintah? Apakah paradigma membuat konten untuk masyarakat perlu diubah menjadi membuat konten bersama masyarakat?

Kerja sama dengan Netflix

Dugaan saya, karena frustrasi luar biasa itu, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI menggandeng Netflix. Menurut Nadiem, tujuan kerja sama ini adalah memajukan perfilman Indonesia. Teknisnya, Netflix melatih para pembuat film Indonesia.

Yang terjadi kemudian, muncul kritikan atas kebijakan ini. Wajar, mengingat Netflix belum memiliki badan hukum di Indonesia. Netflix juga belum pernah membayar pajak sejak kehadirannya di Indonesia.

Dua bulan lalu, Dirjen Pajak Suryo Utomo mengatakan, Indonesia kesulitan mengambil pajak dari perusahaan internasional berbasis digital yang mendapatkan keuntungan di Indonesia seperti Spotify, Netflix, Facebook, Google hingga Twitter.

 

Sumber :

https://articles.abilogic.com/409872/real-moto-apk-mod.html